Ada satu yang menggelitik saya saat membicarakan penulisan buku anak, terutama untuk anak di bawah sepuluh tahun, yakni pendapat bahwa cerita sebaiknya menggunakan kata-kata keseharian atau yang diakrabi anak, atau yang familiar bagi anak. Pertanyaannya: seberapa jauh seorang penulis mengetahui kata-kata yang diakrabi calon pembaca bukunya? Kata-kata yang akrab itu sifatnya subjektif, sangat bergantung pada latar kehidupan anak. Anak yang rutin dibacakan buku sejak masih piyik, akan memiliki kosakata yang sangat kaya pada usia tujuh tahun. Saya teringat, anak saya pernah berkata seperti ini saat usianya belum mencapai tujuh tahun, “Ah, banal sekali pemikiran ibu.” Banal! Kata yang bahkan mahasiswa saja belum tentu tahu. Namun, anak saya tahu karena orang tuanya saat itu langganan koran, acap membaca artikel yang memuat kata banal, lalu acap menggunakan kata banal dalam percakapan. Anak adalah penyerap kata dan makna. Mereka memahami makna sebuah kata dari memperhatikan bagaimana orang di sekitarnya menggunakan kata-kata itu.
Sebuah cerita, sesungguhnya juga alat anak belajar bahasa, mengenal struktur narasi, dan lebih jauh lagi, belajar berpikir. Sebagai media belajar bahasa, sebuah buku cerita anak mestinya juga mengandung kosakata yang mengayakan pikiran anak, dengan tetap memperhatikan penulisan kalimat yang jelas (clear) dengan makna yang mudah dikonstruksi anak. Sebagai contoh, kalimat ‘Kata orang, di sana ada puaka’, mungkin mengandung kata yang tidak dikenal anak, yakni puaka. Namun, secara keseluruhan, kalimat itu ‘clear’. Makna puaka akan didapat anak dengan memahami kalimat dan cerita secara keseluruhan. Apalagi, jika kita bicara tentang cerita anak, di mana makna juga ditunjukkan melalui gambar. Maka, makna puaka bisa diantarkan melalui skema ilustrasi yang tepat.
KEMANDIRIAN MEMAHAMI NARASI
Bayangkan seorang anak membaca kalimat, “Seekor kucing mengendap-endap mendekati ikan asin yang sedang dijemur”. Lalu, di kali lain ia membaca, “Kucing itu melihat serpih ikan asinnya mengendap di dalam kolam”. Ia mungkin tidak mengenal maksud kata ”mengendap’. Namun, konteks membantunya membangun dugaan makna. Pada kalimat pertama, ia mungkin berkesimpulan bahwa kata ‘mengendap-endap’ artinya ‘mendekat’. Pada kalimat kedua, kata ‘mengendap’ mungkin diartikan sebagai ‘tenggelam’ atau ‘di dasar kolam’. Ketika pengalaman membaca seperti ini terus berulang, yang terjadi adalah: 1) anak belajar menafsirkan kata berdasarkan konteks, 2) membandingkan penggunaan kata, 3) menemukan hubungan dan perbedaan makna, 4) menguji dugaannya, lalu, 5) membangun pemahaman kata yang semakin kaya.
Jika hal ini berlangsung terus menerus, maka akan terbentuk kemampuan memahami kata berdasar konteks (contextual words learning). Dia akan terlatih membangun makna dari hubungan antarkata, situasi, dan skema ilustrasi. Akibatnya, representasi makna katanya menjadi semakin kaya, kemampuannya membuat inferensi pun semakin berkembang.
Dengan demikian, bukan buku dan anak yang ‘dihukum’ untuk menampilkan dan membaca kata-kata keseharian yang sifatnya subjektif ini. Namun, penulislah yang perlu dilatih untuk menyampaikan cerita anak dalam kalimat-kalimat yang clear, tidak abstrak, tidak ambigu. Oleh karena itu, saat kita menemukan anak tidak tertarik atau kesulitan dengan buku, kita jangan gegabah menyimpulkan bahwa itu dikarenakan buku mengandung kosakata yang tidak anak kenal. Kita perlu melihat, apakah: 1) anak tidak mengenal katanya, atau 2) anak tidak dapat memahami apa yang sedang dikatakan teks? Ada perbedaan yang sangat besar di antara keduanya.
Saya kira, anak tidak harus sudah mengetahui semua kata untuk dapat memahami sebuah cerita. Justru sebaliknya, ia bisa menggunakan cerita untuk mempelajari kata yang belum diketahuinya.


Leave a Reply